Sofifi, Maluku Utara — Kericuhan dalam aksi penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Sofifi, Maluku Utara, pecah setelah beredar video dugaan pemukulan terhadap seorang perempuan oleh massa yang mengatasnamakan Majelis Rakyat Tidore.
Massa aksi yang melakukan penghadangan terhadap Majelis Rakyat Tidore di Jalan 40 Sofifi diketahui bukan bagian dari Aliansi Majelis Rakyat Sofifi (MARKAS). Aksi mereka dipicu oleh insiden kekerasan yang terekam dalam video dan oleh tindakan Majelis Rakyat Tidore yang mendatangi rumah Kepala Desa Balbar.
Arifin, ayah dari korban pemukulan, mengatakan kepada Kapolres Tidore bahwa aksi yang mereka lakukan bukan dalam rangka mendukung atau menolak DOB, tetapi murni karena marah atas kekerasan terhadap anaknya.
“Kami datang karena panggilan moral. Urusan DOB itu urusan kedua. Tapi pemukulan terhadap perempuan itu tidak bisa dibiarkan. Ada bukti video, dan kami minta pelakunya diproses hukum,” ujar Arifin saat menemui Kapolres Tidore, AKBP Heru Budiharto.
Arifin menambahkan, penyampaian aspirasi merupakan hak setiap warga, tetapi tindakan kekerasan tidak bisa ditoleransi. Ia juga menyayangkan sikap aparat yang dinilai tidak sigap mengantisipasi potensi bentrok.
“Kami menyesalkan aparat kepolisian yang tidak melakukan pengamanan maksimal. Apalagi massa dari Tidore datang membawa senjata tajam seperti parang. Seharusnya sudah ditahan sebelum masuk ke Sofifi,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Kapolres Tidore meminta bukti video tersebut segera dikirimkan untuk ditindaklanjuti.
“Kalau ada videonya, segera kirim ke saya agar bisa kami proses secara hukum,” kata AKBP Heru Budiharto.
Kericuhan ini menjadi buntut dari video kekerasan yang viral di media sosial, dan hingga kini situasi di Sofifi masih dipantau aparat keamanan. (Amat)


