Bengkulu – Anggota DPD RI Dapil Bengkulu, Apt. Destita Khairilisani, menjadi narasumber dalam peringatan Global Tiger Day 2025 yang digelar di Tempua, Kota Bengkulu, Selasa (29/7). Kegiatan ini mengusung tema “The Final of King’s Trail, It’s Time to Act” sebagai ajakan untuk menyelamatkan Harimau Sumatera yang kini di ambang kepunahan.

Dalam sesi talk show, Destita mengungkapkan keprihatinannya atas populasi harimau yang diperkirakan tersisa kurang dari 400 ekor.

“Jangan sampai Harimau Sumatera menyusul Harimau Jawa dan Harimau Bali yang sudah punah. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—masyarakat, pemerintah daerah, hingga pusat—untuk melindungi satwa langka ini. Menurutnya, rusaknya habitat menjadi penyebab utama konflik antara harimau dan manusia.

“Kalau habitatnya rusak, wajar kalau mereka turun ke permukiman. Ini sudah terjadi di Kepahiang,” ujarnya.

Destita juga menyoroti pentingnya edukasi lingkungan sejak dini agar generasi muda tumbuh dengan kesadaran mencintai alam.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya tahu harimau dari gambar. Di Bengkulu saja belum ada kebun binatang representatif,” ujarnya.

Ia mendukung usulan Menteri Agama agar pendidikan konservasi dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Selain itu, sebagai anggota Komite III DPD RI, ia berkomitmen mendorong regulasi perlindungan sumber daya alam, termasuk konservasi harimau.

“Kami siap menyuarakan pentingnya undang-undang perlindungan lingkungan hidup,” tegasnya.

Destita turut mengapresiasi peran komunitas seperti Walhi, Kanopi Hijau, dan Tempua yang aktif mengkampanyekan pelestarian harimau.

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Mari mulai dari keluarga, lingkungan, hingga masyarakat luas,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Bengkulu, Himawan Sasongko, mengungkapkan populasi Harimau Sumatera di Bentang Alam Seblat kini sangat kritis.

“Di wilayah Bengkulu Utara, Mukomuko hingga Lebong hanya tersisa sekitar 42 individu. Di selatan, datanya masih minim,” jelasnya.

Ia menyebut alih fungsi hutan dan menipisnya pakan alami sebagai penyebab utama harimau masuk ke permukiman dan memangsa ternak. Dalam momentum Hari Harimau Sedunia ini, Himawan mengajak masyarakat lebih peduli menjaga habitat harimau.