Jakarta – Senator DPD RI apt. Destita Khairilsani, S.Farm., M.S.M secara resmi membuka Seminar dan Pembukaan Hibah Penelitian OBATapps 2025, Jumat (18/7/2025), yang digelar hybrid di Gedung DPD RI dan melalui Zoom Meeting.
Mengusung tema “Sinergi Triple Helix & Penguatan Budaya Riset Menuju Kemandirian Farmasi Nasional”, acara ini dihadiri para tokoh farmasi nasional, termasuk Co-Founder Farmalistik Grup apt. Ridho Muhammad Sakti, Dir. Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbudristek Prof. apt. I Ketut Adnyana, Ketua APTFI Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, serta ratusan akademisi dari 320 perguruan tinggi farmasi se-Indonesia.
Senator asal Bengkulu itu menekankan pentingnya riset sebagai fondasi pembangunan sektor kesehatan dan kefarmasian. Ia juga menyoroti peran strategis DPD RI dalam memperjuangkan kepentingan daerah melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan pertimbangan, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.
“Saya merasa terhormat sebagai apoteker bisa terlibat dalam program strategis ini. Hibah penelitian ini adalah bentuk nyata dukungan terhadap inovasi dan kemandirian farmasi nasional,” ujar Destita.
Ia menilai, kemajuan farmasi hanya bisa dicapai lewat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah—dikenal dengan konsep triple helix. Destita juga mengapresiasi PT Obat Inovasi Indonesia melalui OBATapps, yang tak hanya memberi hibah, tapi juga pelatihan, pendampingan, dan monitoring agar riset betul-betul berdampak nyata.
“Riset kita harus menjawab tantangan zaman—mulai dari penyakit baru hingga resistensi antibiotik. Kita harus bergerak cepat di era Society 5.0 dengan riset yang relevan dan inovatif,” tegasnya.
Destita pun mengajak pemerintah, kampus, dan industri untuk memperkuat investasi riset demi Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera.
Sementara itu, Prof. apt. I Ketut Adnyana dalam keynote speech-nya menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Kita butuh kolaborasi nyata agar hasil riset tidak hanya publikatif tapi juga aplikatif,” ujar Prof. Ketut, sembari mengutip pesan Presiden RI Prabowo Subianto bahwa hanya bangsa yang menguasai sains dan teknologi yang akan sejahtera.
Marketing Leader OBATapps apt. Damas Raja, melaporkan bahwa program hibah yang dimulai sejak 2019, tahun ini menggelontorkan dana Rp350 juta untuk mendukung riset dosen dari kampus mitra dan non-mitra. Tahun sebelumnya, dari 22 proposal yang masuk, sembilan didanai, dengan penghargaan hibah terbaik diraih Stikes Samarinda.
Damas menutup kegiatan dengan apresiasi terhadap para peserta dari 320 kampus. Ia mengisahkan lahirnya OBATapps dari semangat aktivisme mahasiswa ISMAFARSI yang ingin memajukan pendidikan farmasi secara merata.
“Kami ingin menjadi bahan bakar bagi lokomotif-lokomotif pendidikan farmasi di Indonesia. Momentum ini kami harap memperkuat kolaborasi triple helix untuk wujudkan kemandirian farmasi nasional,” tutup Damas .


