Bengkulu – Kentang dikenal luas sebagai sumber karbohidrat yang kaya nutrisi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kentang bisa menjadi beracun jika tidak ditangani dengan benar.

Dilansir dari Healthline, kentang mengandung senyawa alami bernama glikoalkaloid, yang terdiri dari dua komponen utama: solanin dan chaconine. Senyawa ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami tanaman kentang terhadap hama dan patogen. Namun, dalam jumlah tinggi, glikoalkaloid dapat membahayakan kesehatan manusia.

Solanin dan chaconine umumnya terkonsentrasi di bagian kulit kentang, terutama pada kentang yang sudah berwarna hijau, bertunas, atau mengalami kerusakan. Paparan cahaya matahari dan penyimpanan yang tidak tepat dapat meningkatkan kadar solanin secara signifikan.

Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, solanin dapat menyebabkan gejala keracunan seperti mual, muntah, nyeri perut, diare, hingga gangguan sistem saraf. Berdasarkan data dari National Library of Medicine (NIH), batas aman konsumsi solanin adalah sekitar 20 mg per 100 gram kentang. Jika kadar mencapai lebih dari 200 mg, risiko keracunan meningkat tajam.

Tanda kentang yang sebaiknya dihindari antara lain warna kulit yang berubah kehijauan, muncul tunas, serta rasa pahit saat dimakan. Warna hijau pada kentang menunjukkan peningkatan produksi solanin akibat paparan cahaya.

Agar tetap aman dikonsumsi, kentang perlu dicuci bersih, disimpan di tempat gelap dan sejuk, serta bagian yang hijau atau bertunas sebaiknya dibuang. Mengupas kulit kentang dan memasaknya dengan benar juga dapat membantu mengurangi kadar solanin secara signifikan.

Dengan penanganan yang tepat, kentang tetap dapat menjadi pilihan pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.