Bengkulu – Senator asal Bengkulu, Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., MSM., angkat bicara terkait insiden keracunan massal yang menimpa 130 siswa di Kabupaten Lebong usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (27/8/2025).

Destita menilai peristiwa tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah dan penyelenggara program MBG. Ia menegaskan, penyediaan makanan untuk anak sekolah harus benar-benar mengikuti standar Badan Gizi Nasional (BGN), tidak hanya dari sisi kandungan gizi, tetapi juga kebersihan, proses pengolahan, hingga distribusinya.

“Kejadian ini jangan dianggap sepele. Penyajian makanan bergizi untuk anak-anak jangan hanya mengutamakan kuantitas, tetapi juga harus menjamin keamanan dan kualitas. Semua pihak harus disiplin mengikuti standar BGN, mulai dari dapur hingga meja makan anak-anak,” ujar Destita, Kamis (28/8/2025).

Apoteker lulusan Universitas Indonesia ini mengapresiasi respons cepat tim medis RSUD Lebong dan tenaga kesehatan setempat yang segera mengevakuasi siswa serta memberikan penanganan darurat. Menurutnya, kecepatan penanganan itu berhasil mencegah risiko yang lebih fatal.

Sementara itu, Plt Direktur RSUD Lebong, dr. Eni Efriyani, menyampaikan bahwa seluruh siswa terdampak saat ini masih dalam observasi intensif selama 24 jam. Gejala yang dialami rata-rata berupa muntah dan pusing setelah mengonsumsi menu berupa bakso, jagung, dan mie.

“Kami sudah memberikan cairan, antibiotik, dan obat-obatan pendukung lainnya. Seluruh tenaga medis telah dikerahkan sesuai instruksi Bupati Lebong untuk memastikan kondisi anak-anak cepat pulih,” jelas Eni.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Cahaya Sriwijaya Nusantara selaku vendor penyedia makanan MBG di wilayah Lebong Sakti belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab insiden tersebut.

Aparat terkait masih melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan guna memastikan sumber kontaminasi.