Bengkulu – Cahaya Perempuan memperingati Hari Anak Nasional 2025 dengan menggelar kegiatan bertema “Anak Sehat, Sadar Hak, dan Terlindungi melalui Pendidikan Seksual dan Reproduksi”.

Kegiatan puncak ini dilaksanakan secara serentak di empat lokasi berbeda, yakni SMP Negeri 17 Kabupaten Seluma, Kantor Bappeda Kabupaten Kepahiang, Balai Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong, dan Kantor Cahaya Perempuan Bengkulu.

Kegiatan ini diikuti oleh kelompok perempuan muda, perwakilan keluarga Gaharu, dan pemuda Karang Taruna. Selain itu, turut hadir narasumber dari tenaga kesehatan yang menyampaikan materi mengenai pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi (Kespro) bagi anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki.

Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan, Leksi Oktavia, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada anak-anak dan remaja mengenai tubuh mereka, proses reproduksi, serta risiko dari hubungan seksual di usia anak. Ia menegaskan pendidikan Kespro harus disampaikan sejak dini secara bertahap, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Masih banyak keluarga yang menganggap pendidikan Kespro sebagai hal tabu. Padahal, justru dengan pemahaman yang benar, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, sadar akan haknya, dan terlindungi dari kekerasan seksual,” ujar Leksi.

Dalam sesi diskusi, tenaga kesehatan memberikan edukasi tentang tahapan pramenstruasi, proses menstruasi, hingga risiko hubungan seksual di usia anak. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mendapatkan pengetahuan ini secara utuh.

Selain itu, Cahaya Perempuan juga mengangkat isu penting mengenai perkawinan anak dan dampaknya, terutama bagi anak yang menikah di usia di bawah 19 tahun. Peserta juga diajak memahami nilai-nilai keluarga pembaharu yang digaungkan dalam program Gaharu, khususnya mengenai pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.

Leksi menyebut, komunikasi yang tertutup dalam keluarga sering kali membuat anak enggan mengungkapkan pendapat atau pengalaman mereka, bahkan saat mengalami kekerasan. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi ruang aman bagi anak.

“Anak-anak perlu merasa didengar dan dipercaya. Orang tua harus menjadi teman pertama bagi anaknya agar mereka mau berbagi cerita, termasuk jika mengalami kekerasan,” tambah Leksi.

Pendidikan Kespro yang disampaikan dalam kegiatan ini juga mencakup pengenalan terhadap bentuk-bentuk kekerasan seksual. Banyak anak yang belum menyadari bahwa mereka bisa menjadi korban, bahkan oleh orang terdekat.

Cahaya Perempuan berharap, melalui kegiatan ini, anak-anak bisa tumbuh dengan kesadaran penuh atas hak-haknya, menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental, serta terlindungi dari kekerasan seksual.