Fenomena anak muda zaman sekarang terutama pada generasi Z yang semakin menjauh dari budaya lokal bukanlah masalah yang bisa disalahkan pada satu pihak tertentu, generasi muda saat ini lebih terhubung dengan budaya global, terutama melalui teknologi dan media sosial.
Hal ini tak bisa dipungkiri, karena mereka tumbuh di tengah globalisasi yang pesat. Namun, ketika kita mempertanyakan siapa yang salah, kita perlu melihat berbagai aspek yang berperan dalam pembentukan pola pikir anak muda.
Pada generasi milenial, meskipun generasi tersebut cukup terdampak oleh perkembangan teknologi, namun generasi mereka ini memiliki ikatan yang lebih kuat dengan budaya lokal. Mereka hidup pada masa transisi dari dunia analog ke dunia digital, yang memungkinkan mereka untuk mengenal budaya global sekaligus tetap menjaga hubungannya dengan budaya lokal.
Banyak juga dari mereka yang masih merayakan dan menjunjung tinggi tradisi, bahkan sampai memperkenalkannya kembali dengan cara yang lebih menarik, modern serta relevan.
Pada generasi milenial, meskipun generasi tersebut cukup terdampak oleh perkembangan teknologi, namun generasi mereka ini memiliki ikatan yang lebih kuat dengan budaya lokal. Mereka hidup pada masa transisi dari dunia analog ke dunia digital, yang memungkinkan mereka untuk mengenal budaya global sekaligus tetap menjaga hubungannya dengan budaya lokal.
Banyak juga dari mereka yang masih merayakan dan menjunjung tinggi tradisi, bahkan sampai memperkenalkannya kembali dengan cara yang lebih menarik, modern serta relevan, mereka masih menyadari pentingnya melestarikan budaya dan mencoba untuk menjaga keseimbangan anatara globalisasi dan warisa budaya nenek moyang.
Berbanding terbalik pada generasi z, fenomena ini jauh lebih kompleks, pada generasi ini hampir sepenuhnya berada di dalam dunia digital dan sosial media yang cenderung memperkenalkan budaya asing secara lebih cepat. Tiktok, Instagran dan YouTube menjadi platform utama untuk menghabiskan waktu dan berinteraksi, menurut Survei Lembaga Kebudayaan Nusantara (2024) menemukan bahwa hanya 35% anak muda dari kalangan Gen Z yang memahami budaya daerah mereka.
Sebaliknya, lebih dari 60% tertarik pada bentuk budaya yang sudah dikemas ulang, seperti fashion, makanan atau musik remix, mereka lebih tertarik pada hal-hal yang cepat, instan, dan mudah diakses, yang sering kali berasal dari luar negeri. Dalam konteks ini, budaya lokal sering kali dianggap “kuno” atau “kurang menarik” jika tidak dikemas dengan cara yang kekinian.
Namun jika dipertanyakan, apakah anak muda sepenuhnya salah dalam hal ini? Tidak sepenuhnya. Ketika kita membicarakan tentang pelestarian budaya, kita tidak bisa menyalahkan satu pihak atau generasi yang lebih muda. Kita juga harus mempertanyakan bagaimana peran orangtua, pendidik, dan pemerintah dalam mengajarkan dan memperkenalkan budaya indonesia kepada anak muda.
Jika pendidikan formal dan informal tidak cukup untuk memberikan ruang bagi anak muda untuk bisa memahami dan menghargai budaya mereka sendiri, maka tidak heran jika mereka tertarik pada budaya asing yang menurut mereka lebih mudah dijangkau bahkan lebih keren di mata mereka.
Budaya lokal juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tanpa inovasi dan pendekatan yang relevan, budaya lokal akan terpinggirkan. Misalnya, menggabungkan tradisi dengan teknologi atau memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi anak muda tentang kekayaan budaya yang ada.
Sebagai contoh, banyak generasi Z yang lebih tertarik pada musik tradisional jika disajikan dengan cara yang lebih modern, seperti remix atau kolaborasi dengan genre musik populer.
Kesalahan ini bukanlah hanya milik anak muda, tetapi tanggung jawab bersama. Generasi Z membutuhkan panduan dan pendekatan yang lebih kreatif dari generasi sebelumnya untuk menjaga dan menghidupkan kembali budaya lokal.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menciptakan ruang yang lebih terbuka untuk berdialog, mengedukasi, dan menciptakan budaya yang lebih relevan bagi anak muda. Dengan begitu, budaya lokal dapat tetap hidup, berkembang, dan dihargai meskipun berada di tengah gelombang globalisasi yang semakin besar.
***
Amira Nuzilla Kurniafi

